Pencarian identitas diri seorang FX Harsono. Itu kalimat pertama yang terpikir oleh saya saat selesai mengelilingi ruangan gedung utama di galeri nasional. Panasnya terik matahari pukul 10 yang sempat membuat pusing akhirnya dapat terbayar dengan melihat setiap karya yang di hasilkan oleh FX Harsono.

Ada banyak ragam karya yang dibuat, akan tetapi semuanya bermuara kepada satu tema, tentang masa lalu dan jati dirinya yang tinggal di Indonesia sejak lahir. Saya beruntung saat datang kesana bapak fx harsono sedang memberikan ‘tour guide’ kepada beberapa warga asing yang datang kesana, tanpa ragu dan malu saya pun ikut nimbrung diantara mereka.

Ia menceritakan tentang betapa sulitnya hidup sebagai warga keturunan chinese di Indonesia, meski memiliki wajah keturunan chinese ia mengatakan sama sekali tidak mengerti dan tidak dapat berbicara bahasa chinase, bahkan ia mengatakan neneknya juga bukan keturunan chinese. di lahirkan di Blitar pada 60 tahun yang lalu membuatnya mengalami beberapa kejadian tidak mengenakan, salah satunya adalah pembantaian warga sipil keturuan china.

Ayah FX Harsono yang dahulu mempunyai studio foto yang diberi nama “Atom” adalah salah satu dari tim yang ditugaskan untuk menggali kuburan-kuburan korban pembantaian tersebut. FX Harsono yang saat itu masih kecil belum mengeri arti foto-foto yang di buat oleh ayahnya tersebut.

hingga saat ia mengerti, dibuatlah sebuah bentuk perhatian terhadap ‘keluarga’ tersebut.  Dalam pameran ini FX Harsono mencoba untuk memberikan suatu bentuk perhatian dan keprihatinannya kepada Blitar atas kejadian pembantaian yang pernah terjadi disana, dan semuanya dituangkan dalam bentuk karya seni rupa yang beragam, mulai dari lukisan, instalasi fotografi, hingga video dokumentar.

  • Galeri Nasional Indonesia, Galeri A
  • Jl. Medan Merdeka Timur 14, Jakarta
  • 1 November – 14 November 2009