Siapa sih yang enggak suka di bawain oleh-oleh? apalagi bila oleh-oleh tersebut dibawa dari luar negeri, wah…pasti ga bakal ada yang nolak bila dibawakan. Begitu juga dengan saya dan setiap pengunjung pameran tunggal Angki Purbandono yang berjudul ‘2 folder from Japan’ yang di selenggarakan di ViviYip artroom 2, disana kita disajikan oleh-oleh yang dibawa Angki saat ia melakukan program residensi serta sebagai satu-satunya peserta dari Indonesia yang mengikuti pameran The 4th Fukuoka Asian Art Triennale di Fukuoka Asian Art Museum, Jepang.

Saya sempat bertemu dengan Angki 2 kali di tempat pamerannya, dan inilah hasil obrolan saya dengannya ;

Jadi Pameran ini ceritanya oleh-oleh Angki dari Jepang yah? gimana sih ceritanya bisa dikirim untuk ikut event tersebut?
= Jadi itu dimulai dari 2 tahun yang lalu, tahun 2008> Waktu itu Cemeti Art house lagi mengumpulkan seniman untuk acara di tahun 2009. Mereka (Fukuoka Asian Art Museum) sudah ada kuratorialnya dari seluruh Asia Tenggara, yang menarik mereka yang dateng ke Jogya koratornya masih muda-muda, itu yang awalnya udah ngebuat aku tertarik. Jadi Intinya meraka (pihak Fukuoka Asian Art Museum) dateng ke Cemeti, kita diundang kesana dan dilakukan audisi.

Kalo untuk persiapan karya yang mau dibawa ke Jepang itu gimana?
= Kalo secara konsep udah, jadi konsep yang aku presentasikan itu yang mereka pake (sebagai item promosi resmi)

Soal Scannography ?
= Oh soal Scannography itu emang udah ada, udah mengalami teknologi panjang, mulai dari X ray di tahun 1800an, sampai akhitnya (tercipta) scan, beberapa seniman di Amerika dan Eropa juga menggunakan media scan sejak dulu. Kalo untuk (karya) aku justru bukan pada teknis sebetulnya, tapi pada apa yang diletakan di sana, untuk teknisnya semua orang bisa ngescanlah..seperti prinsip pada kameran, apa yang ada di depan itu moment.

Dalam berkarya, Angki apa memang selalu menggunakan media Scan?
= Oh enggak..untuk scannography baru aku pake tahun 2005, secara latar belakang aku kan emang Fotografi di ISI (Institut Seni Indonesia) di Yogya Tahun 1994 -angkatan pertama waktu itu-  terus mungkin naluri esperimennya kali yah, jadi dari awal aku udah suka eksperimen, seperti kolase, animasi, stop motion. Pada saat aku mengenal fotogram, salah satunya teknik kamar gelap, objek yang diletakan di atas kertas terus disinari & kemudian kertas foto otu akan merekam bayangan dari objek foto. Nah…dari Fotogram itu aku belajar sama temen-temen, aku bikin objek, aku taro diatas kertas, dan ternyata aku justru lebih suka hasil bayangannya dari pada objeknya. Nah..untuk mendapatkan obejk yang sama akhirnya aku taro diatas Scan.

Untuk yang ini (karya berjudul ‘SOLDIER’, lihat bawah), konsep memadukan makanan Jepang dengan foto-foto itu gimana ceritanya bisa tercipta?
= Ya inilah oleh-olehnya, untuk karya ini sebenernya hasil dari residensi ku dulu selama 50 hari di Jepang. Aku ini kan suka jalan-jalan, box makanan ini aku beli dijalan, dan karena aku ga bisa masak, akhirnya aku beli yang instan, untuk fotonya aku beli di pasar bekas yang ada disana, aku nemu foto-foto lama, setelah itu aku masukin ke dalam (box makanan), udah deh…jadi sejarah masa lalu & sekarang itu yang aku satukan jadi satu.

SOLDIER - Printed on transparancy paper sing neon box-1 edition neon box series-2010-65x15x98cm

SOLDIER - Printed on transparancy paper-zing neon box installasion-2010-65x15x98cm

Yang manarik dari setiap karya Angki adalah kita bisa melihat kejenakaan serta kejelian Angki dalam menterjemahkan sejarah Jepang melalui caranya sendiri, ia tidak tertarik mempelajari sejarah Jepang seperti Samurai atau Shogun, dan justru lebih memilih memadukan sejarah masa lalu dan sekarang dengan cara yang sederhana, yaitu memadukan foto masa lalu yang mewakili kenangan masa lalu serta makanan Jepang kemasan yang mewakili masa sekarang. ” Paling tidak aku mendapatkan sejarah singkatnya yang cepat dan berkesan” tambahnya, Angki memang seperti mendapatkan pengalaman yang luar biasa selama ia berada di Jepang, hal itu terlihat dari caranya bercerita yang antusias dan penuh semangat dalam membagikan pengalamannya selama berada disana. Luar biasa, semoga Angki dapat terus sukses dalam karirnya!