“We are Designer/Artist, We are Husband an Wife, We are Javanese yet a Global Citizen, We love Gending and also Heavy Metal, We use Mac as we use print and brush, We collect Keris and also snickers, We love gudeg and hamburger, We are idealist that need money, We are love and hate, We are fun but also serious, We like Wayang as much Tintin, we are Indieguerillas’

Kalimat diatas tertulis dengan cukup besar di dalam katalog pameran Indieguerillas yang berjudul  “indie what? indie who?” seakan ingin segera menjawab pertanyaan yang sekaligus menjadi nama pameran yang diselenggarakan Garis Artspace berikut ini. Begitu banyaknya perbandingan antara kebudayaan lokal serta tajamnya persaingan global yang ditulis pada kalimat diatas sekan ingin menjawab siapa sebenarnya Indieguerillas tersebut.

Siapa sih Sebenarnya Indieguerillas?

Saya yakin pasti sudah banyak yang mengetahui siapa sebenarnya di balik Indieguerillas, tapi disini saya akan coba memberitahukannya sekali lagi🙂. Indieguerillas adalah sebuah identitas dari kolaborasi antara Santi Ariestyowanti dan Dyatmiko ‘Miko’  Bawono, pasangan suami istri ini dulunya adalah mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, bila Santi menekuni grafis desain, maka Miko adalah seorang mahasiswa Desain Interior. Meski berbeda jurusan, mreka berdua kuliah di dalam suasana yang sama, dimana unsur seni dan budaya sangat lekat di kampus tersebut.

Kolaborasi pertama kali antara Santi dan Miko dimulai saat mereka mendapat pesanan untuk membuat Cover CD album Sheila On 7 yang berjudul ‘Kisah Klasik untuk Masa Depan’, disanalah untuk pertama kali nama Indieguerillas tercipta sebagai bentuk identitas grafis mereka berdua. Entah karena memang jodoh atau terlalu seringnya mereka berdua bekerjasama di dalam nama Indieguerilas, pada tahun 2002 pasangan ini akhirnya mengikatkan hubungan mereka dalam jenjang pernikahan. Voila! sejak saat itu nama Indieguerillas pun semakin sering terdengar di ranah seni Indonesia.

'WYSIWYG (What You See Is What You Get)' - Acrylic on neon box mounted on wood panel-112x102x102cm-2010

Identitas Indieguerillas

Buat teman-teman yang baru mengenal Indeiguerillas ataupun memang sudah mengenal gaya visual Indieguerillas pasti setuju bahwa karya mereka terbentuk sangat kuat dan mempunyai ciri khas yang mampu menarik perhatian banyak orang. Seperti yang tertulis di kalimat pembuka artikel ini, Indieguerillas itu sebenarnya sama dengen semua masyarakat Indonesia pada umumnya, yang terlahir dalam lingkungan penuh dengan tradisi budaya yang kuat dan hidup dengan keinginan menjadi diri sendiri melalui berbagai macam produk global yang mamaksa kita menjadi pribadi yang konsumtif. Santi dan Miko mengaku bahwa mereka menyukai wayang sebesar rasa suka mereka terhadap komik karya komikus Beligia bernama Georges Rémi, Tintin.

Identitas 2 budaya tradisional dan modern tersebut kini telah menjadi ciri khas dari setiap karya Indieguerillas, coba lihat karya mereka yang berjudul “Sons of the Beach” yang ada di bawah ini, bila diperhatikan kita akan mendapati sosok karakter wayang yang telah berbaur dengan eratnya identitas globalisasi, mulai dari produk hingga image karakter lainnya. Semua hal tersebut seakan ingin mengingkatkan kita tentang siapa dan dari mana kita berasal.

'Sons of the Beach' - Digital Print on acrylic shet mounted on wood panel-184x171x20cm-2010

(DETAIL) 'Sons of the Beach' - Digital Print on acrylic shet mounted on wood panel-184x171x20cm-2010

' I got ten celebrity's Heads but Hafner ain't One' - Acrylic Paint on Wood Panel-157x106x18cm-2010

Pada pameran yang diselenggarakan oleh Garis Artspace hingga tanggal 10 April ini Indieguerillas kurang lebih memerkan 10 karya terbaru mereka, dimana pembuatan setiap karya tersebut dibuat di tahun 2010 ini, sangat menakjubkan mengingat betapa detail setiap karya mereka dan masih dapat tetap memarkan karyanya di bulan ke 4 tahun 2010 ini.

Bila kita lihat setiap karya mereka di pameran ini mungkin kita akan kesulitan menerka jenis karya apa yang mereka kerjakan, ada begitu banyak media yang digunakan Indieguerillas dalam pameran kali ini, misalnya saja kayu, neon box hingga menggunakan digital print diatas Acrylic, contoh lainnya adalah karya mereka yang berjudul ‘Portable Art is Good For You’  yang ada dibawah ini, mereka menggunakan koper yang dijadikan ‘panggung’ bagi desain karakter yang ada didalamnya, how cool is that?🙂

'Portable Art is Good For You' series

'Portable Art is Good For You Series III : Digesting Hollywood Tras (...with Sambal Belacan)' - Digital Print on Acrylic Sheet in Vintage suitcase-124x60x12cm-2010

'Portable Art is Good For You Series II : The Breed of the Brand new Liars' - Digital Print on Acrylic Sheet in Vintage suitcase-124x60x12cm-2010

'Portable Art is Good For You Series I : Phantasitixpolylunatix' - Digital Print on Acrylic Sheet in Vintage suitcase-124x60x12cm-2010

Saya melihat karya Indieguerillas pada pameran ini berkembang jauh lebih matang dari sebelumnya, penggunaan visual serta media yang digunakan oleh Santi dan Miko pun semakin gila dan berani keluar dari mainstream. Hal tersebut yang menjadikan karya mereka sangat layak dikoleksi. dr. Oie Hong Djien yang merupakan seorang kolektor seni yang telah di akui namanya di ranah seni Indonesia pun mengatakan karya Indieguerillas sangat menarik untuk dikoleksi, keberanian Indieguerillas yang mau keluar dari mainstream itulah yang membuat diri mereka spesial dimata para pecinta seni dan kolektor barang seni.

Exhibition Name :Indie what? Indie who?
Place : Garis Artspace
Curator :Hermanto Soerjanto
Time : 27 March – 10 April 2010
Artist : indieguerillas