Perkembangan Seni jalanan atau disebut sebagai Street Art di Indonesia kini semakin mendapat pengakuan, setahu saya di Indonesia sampai saat ini tidak banyak bentuk apresiasi terhadap seni yang berkembang di jalanan tersebut yang dapat masuk kedalam ranah galeri, baik galeri komersil maupun non-profit, hanya ada beberapa ruang pamer/galeri saja yang dapat menerima dan memamerkan karya Street Art, sebut saja Ruang Rupa yang merupakan galeri non-profit dan yang baru-baru ini juga sempat saya bahas di blog ini adalah pameran tunggal Darbotz di D gallerie.

Di bulan July ini tidak tanggung-tanggung, ada 13 Street Artist yang berpameran di sebuah galeri yang terkenal sering sekali mengangkat dan mempertunjukan dunia kesenian Indonesia, Salihara. Pameran yang diberi Judul Wall Street Arts ini adalah sebuah pameran grup graffiti pertama yang diakui dan dipamerkan di Galeri Salihara, pameran ini menampilkan 7 Street Artist dari Indonesia, 6 Street Artist dari Perancis dan Farhan Siki serta Soni Irawan sebagai Guest Artist.

Bila teman-teman belum sempat datang ke Salihara, saya sarankan untuk segera datang kesana, karena pameran yang berlangsung sampai dengan tanggal 2 Agustus 2010 ini dapat memuaskan dahaga anda para pecinta Street Art, ada nama-nama para Street Art yang pasti sudah anda kenal karena karyanya sering sekali kita lihat di berbagai sudut kota Jakarta seperti Bujangan Urban, Darbotz, Kims, Nsane5, Popo, Wormo dan Tutu. Buat teman-teman yang memang sudah mengenali dan bahkan hidup di dunia Street Art pasti juga mengenal nama-nama legendaris para Street Artist yang berasal dari Perancis, sebut saja Ceet, Colorz, Gilbert, Kongo, lazoo dan Sonic.

Gilbert | 'Francois' | Spray & Acrylic on Canvas | 208x161cm | 2010

LEFT Popo | 'Belatung' | Spray paint & Acrylic on Canvas | 2010 | RIGHT Popo | 'Ufo PLPP' | Spray Paint on Canvas | 2010

Tutu | 'The Casings' | mixed media | 2010

Saya rasa pameran Wall Street Arts ini akan menjadi pemicu serta gelombang mulai diakuinya Street Art di dalam perkembangan Seni di Indonesia, memang sih bila dibandingkan dengan dinegara lain, perkembangan Street Art di Indonesia bisa dibilang cukup tertinggal jauh, karena di negara-negara Eropa karya Seni jalanan sudah lebih dulu diakui dan di apresiasi layaknya pure art,  contohnya adalah seperti adanya karya para Street Art di pameran Seni rupa besar di Grand Palais, Perancis. Serta adanya majalah seni rupa kontemporer seperti Juxtapoz.  Sedangkan di Indonesia, graffiti para Street Art masih dianggap sekedar karya Vandalisme yang tidak mendapat apresiasi.

Darbotz | 'I clean your god damn wall #1' | mixed media on Canvas | 100x100cm | 2010

Lazoo | 'Alphabet City' | Spray & Marker on Canvas' | 210x160cm | 2010

Mudah-mudahan di lain waktu akan ada pameran serupa yang tanpa ‘ditemani’ Guest Artists, saya kok merasa pameran ini rada nanggung dalam menampilkan karya para Street Artist, karena dengan adanya nama Farhan Siki dan Soni Iriwan yang merupakan seniman dengan ciri khas lukisan bagaikan sebuah karya Street Art, pameran ini seperti belum berani benar-benar mengangkat para Street Artist tersebut dan harus ‘ditemani’ oleh seniman yang sudah mempunyai nama. Secara keseluruhan, pameran Wall Street Arts – Jakarta Paris Graffiti Exhibition ini layal di beri pujian dan apresiasi, khususnya kepada Galeri Salihara.

Exhibition Name : Wall Street Arts
Place : Galeri Salihara
Curator : Alia Swastika
Time : 10 Juli – 2 Agustus 2010
Artist : Indonesia (Bujangan Urban, Darbotz, Kims, Nsane5, Popo, Wormo dan Tutu), Perancis (Ceet, Colorz, Gilbert, Kongo, lazoo Sonic). Guest Artist (Farhan Siki, Soni Irawan)