Sugih

Saat mendengar kata ‘Sugih’ apa yang anda pikirkan? Babi ngepet? Ilmu hitam? dukun? sepertinya memang setiap orang yang mengetahui apa yang disebut dengan Sugih akan mengernyitkan dahinya saat melihat kata tersebut menjadi judul suatu pameran lukisan, mungkin yang akan dipikirkan selanjutnya adalah pameran lukisan tersebut akan menampilkan gambar-gambar seram dengan nuansa gelap dan mengerikan. Tapi saat anda mengunjungi pameran tunggal Radi Arwinda yang berjudul ‘Sugih’ anda pasti akan terkejut,  bukan gambar-gambar mengerikan dengan nuansa gelap yang ditemukan, tapi justru sebaliknya, di Sigiarts tempat pameran ini berlangsung anda akan menemukan lukisan-lukisan dengan gambar yang lucu dan penuh dengan warna-warna primer & sekunder, cerah sekali!

Sugih atau biasa disebut pesugihan adalah suatu folkore atau mitos yang ada dan selalu berkembang di masyarakat tradisional, pesugihan dilakukan orang saat mereka menginginkan kekayaan dengan cara yang instan, caranya adalah dengan mengubah manusia tersebut menjadi makhuk jadi-jadin (umumnya binatang seperti Babi) atau dibantu oleh makhluk jadi-jadian untuk mengambil uang milik orang lain, bisanya mereka menggunakan tuyul, atau makhluk jadi-jadian yang mengambil bentuk anak kecil, telanjang dan berkepala botak.

Sugih ala Radi Arwinda

Sedangkan Sugih yang dibawa oleh Radi Arwinda dalam pameran tunggal keduanya ini justru akan membuat anda tersenyum dan merasa senang, menolak dikatakan gaya lukisanya terpengaruh para seniman low brow, ia mengatakan apa yang ia pamerkan saat ini adalah bentuk curahannya terhadap hal-hal yang ia senangi, yaitu animasi Jepang dan Amerika.

Dalam pameran ini Radi tampak terlihat ingin menyatukan budaya populer (Jepang) dengan budaya tradisional, dalam lukisannya, hal itu terlihat dari style lukisan Radi yang terlihat cute seperti ilustrasi animasi Jepang yang digambarkan dengan mata berukusan besar.  Sedangkan unsur tradisional terlihat dari corak pola batik cirebon, yaitu megamendung. Asmudjo Jono Irianto, kurator pameran ini mengatakan bahwa apa yang dihadirkan oleh Radi dengan menyatukan unsur budaya populer dengan tradisional sudah berhasil dengan baik.

Dalam pameran ini Radi mempersembahkan 10 lukisan, 5 digital print diatas Acrylic dan 5 laser engrave diatas acrylic, dan bila diperhatikan, ada 5 lukisan yang sama, satu dibuat diatas kanvas dengan menggunakan cat acrylic, satu lagi merupakan cetak digital diatas acrylic. Pameran yang selesai pada tanggal 17 Oktober 2010 ini sungguh sangat sayang sekali bila dilewatkan, karena selain membawa hal yang baru dalam dunia seni lukis Indonesia dari segi tema, pameran lukisan dari ranah seni popular ini semakin meramaikan perkembangan dunia seni lukis yang dibawa oleh banyak seniman muda.

'Maneki Ranran' | Acrylic on Canvas | 170x130cm | 2010

Exhibition Name : Sugih
Place : Sigiarts
Curator :
Asmudjo Jono Irianto
Time :
2 Oktober – 17 Oktober 2010
Artist :
Radi Arwinda