Akhir Oktober yang lalu, Galeri Nasional menyelenggarakan salah satu pameran seni yang mempunyai prestise tinggi di tahun 2010 ini. Entang Wiharso, salah satu seniman Indonesia yang sudah sangat terkenal di dunia Internasional ini mengadakan pameran tunggalnya yang ke 13 berjuduul Love me or Die. Love me or Die secara khusus tidak hanya berbicara tentang hubungan cinta antara kaum Adam dan Hawa, akan tetapi pameran yang merupakan bentuk kisah dan pengalaman Entang ini lebih menekankan tentang suatu paksaan yang tidak memberikan pilihan, suatu obsesi berlebihan dan bahkan cenderung gila terhadap sesuatu yang di inginkan. Dalam pameran ini Entang merumuskan Love me or Die juga sebagai perwujudan keserakahan yang sering terjadi di dunia politik, kefanatikan terhadap Agama dan lain-lain.

Entang mengatakan ia menyiapkan pameran tunggalnya kali ini kurang lebih selama 3 tahun, dan yang patut disayangkan dari persiapan selama 3 tahun tersebut ia hanya dapat memerkan karyanya tidak lebih dari 10 hari, tapi Entang memaklumi hal tersebutm karena ia mengerti Galeri Nasional telah mempunyai aturan dan agenda yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, jadi beruntunglah teman-teman yang telah menyempatkan diri datang ke pameran berjudul ‘Love me or Die’ tersebut.

Banyak yang setuju dan  mengatakan bahwa Pameran tunggal Entang Wiharso ini merupkan pameran paling sukses di Tahun 2010, sukses baik dalam karya yang dipamerkan maupun kuratorial yang disusun sangat baik, menarik dan lengkap oleh Jim Supangkat sebagai kurator pameran ini, Suwarno Wisetrotomo, dan Dr. Amanda Katherine.  Pameran yang dibuka pada tanggal 21 Oktober kamis malam ini juga mengadakan acara-acara lain yang mendukung pameran secara keseluruhan, seperti Artist Talk & Talk Show oleh Entang Wiharso.

'Tample of Hope' | Steel Frame, Alumunium Plate, resin, Light Bulb, Cable, Lava Stone | 350x300x200cm | 2010

Yang sangat menarik perhatian saya, pameran Love me or Die ini tersusun dengan sangat rapih dan konseptual, Canna Galeri sebagai galeri yang membawa pameran ini di Galeri Nasional menurut saya sangat berhasil dalam penyelenggaraannya, mengapa? mari kita coba telusuri satu persatu, Saat anda baru datang ke Galeri Nasional, anda akan langsung melihat Gedung A atau Gedung Utama Galeri Nasional ini tertutup dengan pagar besi, bukan sekedar pagar yang menutupi bangunan, tapi pagar besar tersebut juga di hiasi oleh karya instalasi Entang Wiharso, selain berupa lukisan, Entang memang suka membuat karya yang terbuat dari bahan alumunium dan besi. Dari depan saat anda masuk ke dalam di sekitaran meja penerima tamu, anda akan melihat ruangan tersebut terbungkus oleh kertas yang dilukis dan terlihat seakan seperti tekstur kulit, di dalamnya baru anda akan melihat karya-karya pameran ini yang hampir semuanya berskala besar, di salah satu ruangan Galeri Nasional tersebut kita dapat memasuki suatu ruangan yang tetutup tirai hitam yang didalamnya anda akan menemukan karya berjudul ‘Tample of Hope’, Tample of Hope adalah suatu karya berbentuk kotak -dan memiliki atap seperti rumah-, dindingnya tersebuat dari alumunium yang dibentuk penuh oleh karya Entang, di dalamnya anda akan melihat instalasi berupa hati yang menerangi ruangan.

'Floating Island' | Acrylic, Oil on Linen | 300x500cm | 2010

Entang Wiharso adalah salah satu contoh seniman Indonesia yang berasalh dari daerah yang mampu menembus pasar Internasional, pencapain hebat tersebut ternyata bukan semata kebetulan, sejak kecil Entang yang hidup di desa sudah memiliki bakat dan passion menggambar, ia yakin suatu saat nanti saat ia sudah dewasa, ia akan keluar dari desanya dan akan menjadi seniman besar.

Semangat penuh keyakinan tersebut tetap dibawanya hingga kini, sehingga bisa kita lihat, meskipun sudah mempunyai nama besar, eksplorasi karya Entang seakan tiada henti, ia mengatakan uang-uang yang ia dapatkan dari hasil  penjualan karyanya justru bermuara menjadi karya lain, ia menghabiskannya untuk berekperimen dalam menggunakan media-media seperti alumunium, besi dan resin.  Saat ditanya apakah ia lebih suka berkarya dengan menggunakan media alumunium/besi dari pada lukisan, ia menjawab bahwa berkarya diatas kanvas lukisan tetap menjadi favoritnya.

Exhibition Name : Love me or Die
Place : Galeri Nasional (Galeri Canna)
Curator :
Jim Supangkat
Time :
21 Oktober – 31 Oktober 2010
Artist :
Entang Wiharso