'My Ancestors Were Traders' | gouache on paper | 75x56cm (3 panles) | 2010

Bagi seorang seniman, bukan hanya proses pencarian jadi diri saja yang sering kali menjadi Subject matter karya lukisannya, seorang seniman kelahiran Semarang 1961 bernama Nindityo Adipurnomo adalah salah satu seniman yang sering kali menjadikan lukisannya menjadi media proses pencarian identitas kebangsaan dan kebudayaan.

Seniman lulusan Institut Seni Indonesia Jogya yang juga pernah mengecap pendidikan Seni di Amsterdam Belanda ini pada pameran tunggalnya yang diselenggarakan oleh Semarang Contemporary Art Gallery di Jakarta Art District mengangkat tema Identitas nenek moyang serta kebudayaan Indonesia, dalam kurang lebih 8 judul lukisan yang ia pamerkan tersebut banyak menggambarkan portrait seseorang, seperti dalam karyanya yang berjudul ‘My Ancestors Were Traders’ dalam lukisan diatas, Nindityo menggambarkan satu keluarga Tionghoa, ia mengatakan mungkin saja kakek buyutnya adalah seorang pendatang dari daratan cina.

'Napoleon Kompleks Saudagar Komprang' | gouache on paper | 70x200cm (2panles) | 2010

Selain mempertanyakan identitas masa lalunya, Nindityo juga sering membahas tema-tema yang berhubungan dengan kebudayaan dan keragaman agama di Indonesia. Ia merasa sering kali keragaman agama di negeri ini seperti terancam dengan adanya golongan tertentu. Suami dari seniman Mella Jaarsma ini sepertinya tidak pernah lelah untuk terus memperlihatkan hasil pencarian kegelisahan yang ia rasakan terhadap negeri ini.

Exhibition Name : Napoleon Kompleks Saudagar Komprang
Place : Semarang Contemporary Art Gallery (Jakarta Art District)
Curator :
Rifky Effendy
Time :
6 November – 20 November 2010
Artist :
Nindityo Adipurnomo