Indieguerillas | 'RADJA DJALANAN, ada duit, ada jalan' | Polyuretan Paint on Mini Cooper III, 1974

Penghujung akhir tahun 2010 ini kita di suguhi sebuah pameran luar biasa oleh Galeri Nasional yang bekerja sama dengan Garis ArtSpace berjudul Ethnicity Now pameran yang diberi tambahan ‘Indonesia Contemporary Art’ ini seperti ingin menunjukan bahwa apa yang dipamerkan di pameran ini merupakan sebuah pameran karya Seni kontemporer.  Seni Kontemporer atau Contemporary Art sering sekali menjadi bahan pembicaraan di forum-forum kesenian, mulai dari apa yang sesungguhnya menjadi definisi Kontemporer, sejauh mana sebuah karya seni di sebut kontemporer, apakah dilihat dari proses pembuatannya atau hanya sekedar media apa yang digunakan oleh sang Seniman.

Diluar konteks kontemporer tersebut, judul dari pameran ini sendiri cukup menarik bila kita coba pahami. Ethinicity Now terdiri dari dua kata, ‘Ethnicity’ dan ‘Now’. Ethnicity atau sekelompok etnik yang mengidentifikasi diri mereka masing-masing melalui kebudayaan dan tradisi setempat, Ethnicity berasal dari kata Yunani yaitu Ethnos yang berarti kesatuan. Dalam pameran ini Ethinicty juga bias bararti sejarah etnis yang dimiliki oleh seseorang atau kelompok. Kata berikutnya yaitu ‘Now’ mengungkapkan sesuatu yang kekinian atau sesuatu yang baru. Kurator pameran ini, Jim Supangkat, mengatakan bahwa judul pada pameran ini merupakan Oxymoron, karena tidak mungkin menyandingkan Ethinicity yang merupakan persoalan masa lalu dengan sesuatu yang kekinian, namun tambahnya lagi justru pameran ini memang dimaksudkan untuk membahas dua tema yang bertolak belakang tersebut.

Nasirun | 'Bajaj Pasti Berlalu' Series | Multi Media | 2009-2010

The Artist

Pameran yang dikuratori oleh Kurator Senior Jim Supangkat ini menghadirkan 8 orang seniman seperti I Wayan Bendi, I Made Djirna, Heri Dono, Nasirun, Samuel Indratama, Angki Purbandono, Indieguerillas dan Yudi Sulistya. Pameran ini terasa seperti sebuah hajatan besar, sebuah perayaan dimana setiap nama seniman tersebut menghadirkan karya-karya fantastis yang berebut menarik perhatian pengunjung.  Saat kita masuk ke dalam komplek Galeri nasional, kita akan melihat karya Samuel Indratama, sebuah instalasi aksara  Jawa terpajang tepat di depan tangga masuk gedung A Galeri Nasional, saat masuk kedalam, kita akan melihat karya instalasi Heri Dono yang mengundang senyum dan kagum, di salah satu sisi aula Galeri Nasional, ada mobil berisi beberapa patung dan berplat bertuliskan ‘Dono and the Gang on Tour’, dibelakangnya ada mural bertuliskan ‘Heri Dono Was Here’, coretan sederhana yang terlihat menggunakan Pylox tersebut seperti bernada satir.

Saat kita masuk ke dalam ruangan, sebuah instalasi dari Angki Purbandono menyambut kita dengan megah dan meriah, sebuah neon box berukuran 3,5 x 7 meter berjudul ‘TV Lovers – Indonesia 2004, 2010’ ini seakan memberikan kesan etnisitas dalam bentuk implisit, sebuah potongan gambar acara Televisi local Indonesia yang menampilkan acara-acara Sinetron, gosip, berita dan olahraga tersebut seperti ingin memberikan sindiran bahwa masyarakat Indonesia memang terkenal Sangat suka menghabiskan waktu di depan televisi sehingga seperti sudah menjadi tradisi yang melekat dalam masyarakat.

Indieguerillas | 'A Thousand Lies to Lie to' | Acrylic on Canvas+Wood Frame | 2010

I Wayan Bendi | 'Cintaku Negeriku' | Acrylic on Canvas | 292x385cm | 2008-2010

Dua orang senian yang berasal dari Bali yaitu I Made Djirna dan I Wayan Bendi masing-masing menghadirkan lukisan berukuran besar yang fantastis. I Wayan Bendi yang terkenal dengan lukisan bergaya Batuan atau khas Bali ini seperti biasa selalu memadukan antara sisi etnik dalam gaya lukisan batuannya dengan permasalahan yang terjadi saat ini, bila biasanya beberapa pelukis batuan hanya menggambarkan tema sederhana seperti upacara tradisional dan sebagainya, I Wayan Bendi justru selalu Up to date dengan melukiskan kejadian-kejadian seperti peristiwa 9/11, kematian Lady Di, dll. I Made Djirna hadir dengan lukisan abstrak yang masih terasa unsur dan nuansa Balinya.

Nasirun menghadirkan beberapa macam jenis karya, mulai dari painting hingga instalasi, diantar karyanya ada yang berukuran besar, seperti karyanya yang berjudul ’Bajaj Pasti Berlalu’ Nasirun menghadirkan 3 buah Bajaj yang sudah diberi sentuhan artistiknya, ketiga Bajaj tersebut mempunyai 3 warna berbeda, yaitu emas, perak dan perunggu, di sisi lain Galeri Nasional, karyanya yang berjudul ’Tanah Airku Indonesia’ merupakan sebuah instalasi Perahu dengan diberi tambahan kepala dan ekor naga. Yang mencolok perhatian lagi adalah adanya sebuah mini cooper yang sudah mendapat sentuhan dari Indieguerillas, mini cooper tersebut merebut banyak perhatian dari para pengunjung di hari pembukaan pameran Ethnicity Now, karya lain Indieguerillas adalah sebuah lukisan diatas kanvas dengan frame kayu berbentuk karakter seorang manusia berjudul ‘A Thousand Lie to Lie’.

Yudi Yulistya, seniman muda yang belakangan ini namanya terkenal karena karyanya yang berbahan dasar kertas hadir dengan sebuah instalasi berbentuk kendaraan perang berjudul ’Souvenir WW #1’, detail yang ia hadirkan dalam karyanya tersebut membuat saya berdecak kagum. Selain menempatkan instlasi berbentuk aksara Jawa di bagian depan Galeri Nasional, Samuel Indratama juga menempatkan karyanya di seluruh bagian belakang gedung A Galeri Nasional, disana ia membuat berbagai macam karya instalasi yang merupakan hasil kerjasama dengan beberapa orang-orang di Yogyakarta seperti Sujtipto Wibagso, Tjipto Setiono, Teguh Tamsis, N.Rohman, Yayas, Pak B, Ibu Marmi, Kery Bantul, Andreas Bernardi, Mas Panjang, Subandi Giyanto dan Bp.Olif.  Disana Samuel bagaikan membuat sebuah Museum di dalam sebuah Galeri Nasional, sangat menarik melihat banyaknya jenis karya yang dipamerkan disana.

Angki Purbandono | 'TV Lovers Indonesia 2004-2010' | Digital Print on Acrylic Sheet | 234 Neon box Installastion | 350x700cm

Meski ke delapan seniman tersebut berasal dari latar belakang yang berbeda, namun mereka semua merupakan seniman-seniman yang sudah mempunyai kekuatan dan ciri khas masing-masing. Akhir kata, Ethnicity Now menurut saya merupakan pameran seni kontemporer tahun 2010 yang sangat sayang sekali bila dilewatkan, karena selain didukung oleh kuratorial yang sangat mendalam oleh Jim Supangkat, pameran ini juga memberikan suguhan menarik dari karya-karya yang di pamerkan.

Exhibition Name : Ethnicity Now
Place : Galeri Nasional (Garis Artspace)
Curator :
Jim Supangkat
Time : 8  – 12 Desember 2010
Artist :
I Made Djirna, I Wayan Bendi, Indieguerillas, Heri Dono, Nasirun, Samuel Indratama, Angki Purbandono, Yudi Yulistya.