Out Of The Box Indonesia bulan Desember ini sudah masuk ke Tahun Pertamanya, saya ingat sekali memulai membuat blog yang saya beri nama haloadri.wordpress.com pada akhir 2009, sebuah blog yang berisi kumpulan hasil design dan ilustrasi yang saya suka dan saya temui di Internet, diantara postingan tersebut terselip artikel tulisan dan foto pameran seni yang pernah saya kunjungi saat masih menjadi mahasiswa di sebuah Institut di daerah sekitar Taman Ismali Marzuki. Lama kelamaan ternyata saya lebih suka membuat postingan dari hasil jerih payah saya sendiri, mulai dari image yang di tampilkan hingga artikelnya, dan akibat terlalu seringnya datang ke pameran seni, membuat saya jatuh hati kepada dunia ini.

Pada bulan Desember saya putuskan untuk menutup blog haloadri.wordpress.com dan membuat satu blog khusus tentang kunjungan saya ke gallery-gallery, sempat diberi nama Review Indonesia dan akhirnya diganti karena nama tersebut sudah digunakan, akhirnya saya memilih nama Out Of The Box Indonesia.

Tahun 2010 bisa dikatakan tahun pengenalan saya terhadap dunia seni rupa, tahun dimana saya mulai belajar memahami seni melalui pameran-pameran yang sudah saya datangi. Melalui tulisan ini saya ingin mencoba merangkum apa saja pameran yang sudah pernah dipamerkan mulai dari awal tahun 2010 hingga akhir tahun ini. Pada awal tahun 2010 ada beberapa pameran besar yang dipamerkan, seperti pameran tunggal Heri Dono ’Nobady’s Island’ di Galeri Nasional, hingga event 2 tahunan bernama Jakarta Bienale, Jakarta Bienale 2009 kali ini diselenggarakan di beberapa tempat seperti Galeri Nasional, Grand Indonesia dan tempat-tempat umum lainnya, bila melihat kebelakang saya jadi ingat, lokasi pameran di Grand Indonesia dulu adalah masih berupa tempat kosong yang nantinya akan menjadi ’distrik seni’ di  Jakarta bernama Jakarta Art District yang dibuka pada February 2010.

Ada beberapa Pameran di tahun 2010 yang secara pribadi saya anggap baik, silahkan dikomentari bila pendapat anda berbeda dengan saya🙂

Darbotz – Monster Goes Out At Night

Pameran yang diselenggarakan di dgallery pada bulan Maret ini bagi saja bukan hanya memberikan kepuasan visual bagi para penikmat seni dan khususnya fans Darbotz, tapi pameran ini secara khusus telah menjadi ‘ledakan awal’ dari perkembangan Street Art Indonesia yang dipandang masyarakat hanya merupakan kegiatan Vandalisme. Pada pameran ini Darbotz menghadirkan karyanya diatas beberapa media, termasuk di atas kanvas, mungkin ini penampakan sang monster cumi tersebut di atas kanvas pada ranah Gallery komersil.

Indieguerillas – Indie What? Indie Who?

Judul Pameran Indieguerillas ini seperti memang ingin menjawab pertanyaan oleh beberapa orang yang belum mengenal sosok Indieguerillas, dan memang, Indieguerillas yang merupakan sebuah nama yang di dalamnnya tergabung duo Suami-Istri yaitu Otom dan Santi, merupakan nama baru di dunia seni rupa Indonesia, meski baru tapi progress yang mereka hadirkan dalam berkarya tergolong cepat sehingga dengan mudah dikenal oleh banyak orang.

Amalia Kartika Sari – Happily (N)ever After

Amalia Kartika Sari atau sering di panggil Amel pada pamerann tunggalnya di tahun 2010 ini seperti ikut menjadi pintu pembuka bagi para seniman generasi muda, dimana karya-karya lowbrow kini sudah mulai banyak masuk dan diterima gallery Indonesia. Karya Amel yang pada dasarnya merupakan bentuk Vector di layer digital, pada pameran ini di hadirkan dengan menggunakan Acrylic dan di dukung dengan frame yang di ukir menyesuaikan dengan lukisannya, saya cukup yakin style yang sering disebut animamix di dunia Internasional ini akan mulai banyak dipamerkan oleh seniman-seniman lainnya.

Arkiv Vilmansa – Riding Curves

Pameran Arkiv di Viviyip Artroom ini seperti menjadi pameran pemungkas di akhir tahun 2010 ini dan sekaligus menjadi awal dari suatu generasi seniman baru di Indonesia, generasi di mana seorang seniman tidak lagi harus menjalani masa pendidikan kesenian untuk menjadi seorang seniman. Arkiv adalah seorang lulusan Arsitektur yang namanya telah dikenal di dunia international sebagai seorang Artist/Seniman, style lowbrow dari lukisannya seakan semakin memperkuat arus baru dunia seni rupa Indonesia.

Entang Wiharso – Love Me Or Die

Pameran yang satu ini harus saya masukan sebagai pameran terbaik pilihan saya di tahun 2010 ini, Entang Wiharso seperti menumpahkan segala cipta, karya dan karsanya sebagai seorang seniman senior Indonesia di Pamerannya yang berjudul Love Me Or Die. Meski dari awal tahun 2010 ini cukup banyak seniman senior Indonesia yang mengadakan pameran tunggalnya di Galeri Nasional secara habis-habisan, Love Me Or Die tetap menjadi pameran berkualitas mulai dari kualitas karya yang dipamerkan hingga kepada detail dan mendalamnya kuratorial yang disusun.

2011

Tahun 2011 mendatang seharusnya menjadi tahun refleksi diri bagi kita sebagai manusia, apa saja yang sudah di perbuat di tahun sebelumnya harus menjadi lebih baik lagi di tahun mendatang, dari pengalaman saya yang se umur jagung ini dalam menghadiri pameran seni rupa, ada beberapa ke khawatiran saya terhadap dunia tersebut, yaitu :

Semakin membosankannya Jakarta Art District (JAD)

Satu tahun belum berlalu,akan tetapi saya sudah merasakan kebosanan terhadap pameran rutin 2 mingguan yang dilakukan 12 galeri yang ada di sana. Tentu saja saya sangat menghargai dan mengetahui betapa tidak mudahnya membuat suatu pameran seni, apalagi ini dilakukan rutin selama kurang lebih 2 minggu sekali.

Keinginan memberikan pusat atau distrik kesenian di tengah pusat kota Jakarta dengan konsep terus memberikan pameran yang baru sepertinya justru akan menjadi ancaman yang cukup serius bagi JAD. Bila ada 1 gallery yang tidak siap saat kebagian jatah berpameran di Hall Utama, yang terjadi adalah seperti dekorasi yang kosong, sepi dan bahkan beberapa kali seperti tidak terasa ada pameran disana, yang ternyata ada pameran baru. Ruangan yang terlalu besar justru membuat pameran yang hanya mempunyai jumlah lukisan/karya yang sedikit seperti dipaksaan untuk menggunakan 1 hall penuh, dekorasi yang itu-itu saja juga membuat bosan pengunjung dan penikmat JAD tetap seperti saya.

Semoga pihak JAD mempunyai solusi terhadap hal tersebut, untuk mengatasi banyaknya ruang kosong menurut saya tidak perlu dipaksaan bagi suatu gallery yang ingin berpameran disana untuk memakai hall secara keseluruhan, dan ada baiknya juga bila diberikan dinding panel baru sehingga pengunjung mendapatkan variasi saat ia berkunjung ke JAD.

Terimakasih banyak kepada para pengunjung tetap maupun yang sekedar nyasar sampai ke blog saya ini. Masih banyak sekali kekurangan Out Of The Box Indonesia sebagai blog yang memberikan review acara pameran seni dan desain, oleh Karena itu bila anda menemukan sesuatu yang mengganjal di hati terhadap hal yeng berkaitan dengan Blog ini silahkan berikan komen anda di blog ini atau email ke outoftheboxindonesia@yahoo.com.

Desember, 2010

Adri Tirtoarrazaq