Bergembiralah untuk teman-teman penikmat seni dan desain, karena di bulan Desember ini kita diberi satu destinasi alternatif yang dapat di kunjungi untuk memuaskan dahaga kita terhadap seni & desain.

LeBoYe

Dialogue Artspace atau terkadang ditulis Dia.lo.gue adalah sebuah Artspace atau ruang pamer yang terletak di daerah Kemang, selain sebagai ruang pamer, Dialogue Artspace juga memfungsikan dirinya sebagai took dan Caffe. Untuk yang belum tahu, Dialogue Artspace menempati tempat yang sama dengan LeBoYe, sebuah graphic house interdisiplin yang dipimpin oleh Ignatius Hermawan Tanzil, nama LeBoYe sudah sangat tidak asing di dunia desain grafis Indonesia maupun internasional karena berbagai macam prestasi dan penghargaan yang pernah di raihnya. Berdiri sejak tahun 1990 bisa dikatakan LeBoYe adalah graphic house yang selalu menggunakan identitas dan elemen ke-Indonesia-an di berbagai desain yang mereka kerjakan, hal tersebut yang menjadikan LeBoYe terkenal dan menjadi salah satu graphic house yang mempunyai identitas kuat dan nomer satu di Indonesia.

Hilman Hendarsyah | 'Ke Sana..!?' | Drawing pen and charcoal | 125x49cm | 2010

Benny Messa | 'Shirt' | recycle paper | 50x10x70cm | 2010

All But Paper

Di pameran perdananya,  Dialogue Artspace menghadirkan beberapa seniman, designer dan arsitek ke dalam pamerannya yang berjudul All But Paper: Seni Kertas Kontemporer, sesuai dengan namanya, di pameran ini setiap peserta pameran menghadirkan karya kontemporer mereka dengan media kertas. Yang cukup menarik disini adalah keberanian Dialogue Artspace yang menggunakan tema dan media kertas dalam pamerannya, seperti yang kita ketahui, kertas dianggap sebagai ‘kelas dua’ dalam dunia seni rupa, karena kertas dianggap sebagai media yang mudah ditemukan dan digunakan serta daya tahannya tidak bisa menyaingi kanvas sebagai media lukis yang paling sering dan telah lama digunakan. Oleh karena itu pada umumnya, harga lukisan atau karya yang menggunakan kertas tidak bisa menyaingi karya yang menggunakan media kanvas,akan tetapi sesungguhnya kertas mempunyai tempat dan sejarahnya sendiri di dunia seni rupa, seniman cat air sangat bergantung dengan kertas, karena torehan cat yang ia tumpahkan diatas media lain -kanvas contohnya- tidak bisa menyaingi hasil cat air di atas kertas.Selain menghadirkan karya dengan media kertas, pada pembukaan pameran Dialogue Artspace juga menghadirkan sebuah performance Sound Art oleh Traction.

Eddie Hara | ' Who's Gonna Be My Guiding Light' | Acrlic, graphite and collage on paper | 55x95cm | 2000-2010

Mendiola B.Wiryawan | 'Curtain Of Question' | Paper Cut | 95x130cm | 2010

Asmudjo Jono Irianto sebagai kurator pameran ini dengan baik memberikan essai nya, seperti biasanya Asmudjo selalu memberikan hasil pemikirannya terhadap pameran All But Paper ini dengan detail dan luar biasa, ia memberikan keterangan satu persatu terhadap seniman yang menjadi peserta pameran ini, yang membuat saya bingung, mengapa ia sama sekali tidak memberikan wacananya terhadap 2 desainer di pameran ini? nama Mendiola B. Wiryawan dan Eric Widjaja sama sekali tidak disebutnya, apakah karena perbedaan profesi dan dunia antara desain grafis dan Seni yang membuatnya enggan membahas kedua karya designer tersebut di penulisan kuratorial? atau ada hal lain diluar hal tersebut?

Dialogue Artspace

Hermawan Tanzil mengatakan bahwa pameran pertama yang diselenggarakan olehnya ini dilalui dengan cara trial and error sehingga sangatlah dimaklumi bila ada kekurangan disana-sini, untuk saya pribadi, pameran All But Paper : Seni Kertas Kontemporer ini sudah memberikan suatu pameran yang menarik, ditunjang dengan suasana interior ruangan yang cozy dan lokasi yang strategis membuat Dialogue Artspace siap memulai petualangannya di dunia seni. Selamat!

Exhibition Name : All But Paper: Seni Kertas Kontemporer
Place : Dialogue Artspace
Curator :
Asmudjo Jono Irianto
Time :
Artist :
Aditya Novali, Adi Purnomo, Agan Harahap, Arief Tousiga, Budi Kustarto, Benny Messa, Deden Hendan Durahman, Eddie Hara, Eric Widjaja, Hilman Hendarsyah, Henricus Linggawidjaja, Mendiola B. Wiryawan, Setiawan Sabana, Suklu, Theresia Agustina Sitompul, T.Sutanto, Traction.

 

All But Paper

Di pameran perdananya,  Dialogue Artspace menghadirkan beberapa seniman, designer dan arsitek ke dalam pamerannya yang berjudul All But Paper: Seni Kertas Kontemporer, sesuai dengan namanya, di pameran ini setiap peserta pameran menghadirkan karya kontemporer mereka dengan media kertas. Yang cukup menarik disini adalah keberanian Dialogue Artspace yang menggunakan tema dan media kertas dalam pamerannya, seperti yang kita ketahui, kertas dianggap sebagai ‘kelas dua’ dalam dunia seni rupa, karena kertas dianggap sebagai media yang mudah ditemukan dan digunakan serta daya tahannya tidak bisa menyaingi kanvas sebagai media lukis yang paling sering dan telah lama digunakan. Oleh karena itu pada umumnya, harga lukisan atau karya yang menggunakan kertas tidak bisa menyaingi karya yang menggunakan media kanvas,akan tetapi sesungguhnya kertas mempunyai tempat dan sejarahnya sendiri di dunia seni rupa, seniman cat air sangat bergantung dengan kertas, karena torehan cat yang ia tumpahkan diatas media lain -kanvas contohnya- tidak bisa menyaingi hasil cat air di atas kertas