Kultur atau dalam bahasa Indonesia kita sebut sebagai ‘Budaya’ menurut wikipedia adalah  suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi, singkatnya budaya terbentuk dari suatu kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang sehingga lama-kelamaan terbentuk menjadi seuatu budaya.

Fixed Gear dan Indonesia

Inilah yang diangkat oleh komunitas Fixed Gear di sebuah toko perlengkapan sepeda bernama Cyclo Bike, tempat tersebut hadir setelah semakin banyaknya penggemar sepeda Fixed Gear hadir di Indonesia. Buat yang belum tahu, dari mulai sekitar tahun 2010 remaja dan orang-orang dewasa Indonesia kini seperti sedang terkena virus Fixed Gear, dimana-mana kini kita dapat melihat orang-orang bersepeda dengan menggunakan sepeda tersebut, bentuknya yang ramping dan kemudahan untuk di modifikasi  merupakan point lebih yang membuat setiap pemilik sepeda ingin selalu merubah dan membuat tampilan sepedanya semakin menarik dan mempunyai ciri khas tersendiri.

Fixed Gear pertama kali sebenarnya digunakan sebagai pengantar pesan atau disebut sebagai kurir, mereka menggunakan sepeda karena setiap pengantar pesar membutuhkan kecepatan serta fleksibilitas dalam berkendara, sepeda saat itu dianggap dapat memenuhi tuntutan tersebut, selain dalam digunakan untuk menembus kemacetan, sepeda juga merupakan alat transportasi yang tidak memerlukan biaya yang mahal.

Sanchia Hamidjaja | 'Girl on Bike' | Acrylic on Canvas | 120x90cm | 2010

Kini menurut kuratorial yang ditulis dalam pameran berjudul FART, Fixed Gear pertama kali masuk ke Indonesia adalah melalui Internet, para pecinta sepeda di website dan forum-forum saat itu saling menunjukan gambar sepeda Fixed Gear dan lama kelamaan rasa penasaran mereka terhadap sepeda tersebut mulai meningkat sehingga satu-persatu muncul lah para pemilik sepeda Fixed Gear di Indonesia, kini kita dapat dengan mudah -umumnya di malam hari- melihat komunitas tersebut berlalu lalang di jalanan.

Art in Cycle Culture

Ternyata bagi beberapa komunitas Fixed Gear, sepeda kesayangan mereka tersebut mempunyai arti lebih dari hanya sekedar sebuah alat transportasi, mereka menganggap ada seni tersendiri yang muncul dari sebuah Fixed Gear. Ini lah yang diangkat oleh Cyclo Bike dalam pameran mereka yang diberi judul ‘FART (Art in Cyle Culture)’, pameran yang mempunyai nama menggelitik tersebut tentu menarik perhatian orang, baik dari komunitas Fixed Gear maupun yang umum seperti saya.

FART menghadirkan sekitar 20 peserta dalam pamerannya, beberapa diantaranya memang merupakan Artist atau seniman-seniman Urban yang sudah memiliki reputasi atas karyanya, kini mereka dikumpulkan untuk membuat suatu karya seni dengan sepeda sebagai tema utamanya, dan ternyata hasilnya sangat memuaskan, kita dapat melihat bagaimana setiap artist menterjemahkan tema pameran ini di atas kanvasnya dengan sangat beragam, seperti karya Darbotz, Sanchia dan Arie Dyanto yang melukiskan image suatu karakter dengan sepadanya, sedangkan Gibranos mencoba memainkan makna dan kata dari lukisannya yang berjudul ‘U-Lock My Heart’, Hauritsa masih dengan ciri dan style khas lukisannya, akan tetapi kali ini diserta dengan dengan sexy joke.

Woof x Arfx | Gold Prada + Aerosol on Mashinelli

Masa depan, Fixed Gear dan Indonesia

Bisa dibilang FART adalah pameran seni visual pertama yang mengangkat tema Fixed Gear, bila di beberapa tempat yang dipamerkan hanya sepedanya saja, FART hadir membawa kesegaran baru bagi pecinta seni visual seperti saya dengan membuat pameran lukisan dari tema Fixed Gear. Kini pertanyaannya adalah, akan bertahan berapa lama para pengendara Fixed Gear ini untuk terus mengayuh sepdanya di jalanan? apakah ini hanya akan menjadi trend sesaat yang kemudian akan timbul tenggelam seperti saat munculnya trend Sepatu Roda? atau Fixed Gear akan tetap selalu hadir di antara masyarakat? Saya pribadi berpikir sepertinya di masa yang akan datang sepeda ini masih akan terus bertahan, fungsinya yang lebih dari sekedar gaya-gayaan membuat Fixed Gear akan terus dipakai orang untuk berolahraga dan menjadi alternatif lain dalam transportasi.

lihat foto-foto saat pembukaan pameran FART ini di woof.

Hauritsa | 'Wheelie me Please' | Acrylic on Canvas | 100x100cm | 2010

Exhibition Name : FART (Art in Cycle Culture)
Place : Cyclo Bike Co.
Curator :
23-29 Desember 2010
Time : 23-29 Desember 2010
Artist :
Aprilia Apsari, Arie Dyanto, Arks, Baybay, Darbotz, Gibranos, Guntur, Hauritsa, Henry Foundation, Ika Vantiani, Jaue Maxx, Jonathan Edwin, Koma, Maze, Mushowir Bing, Saleh Husein, Sanchia, Sarah Jane, Tandun, Unbound.