UNDANGAN PAMERAN

GALERI NASIONAL INDONESIA, 19 – 29 MEI 2011

Pameran Seni Rupa Nusantara 2011

Imaji Ornamen

TEMA                    : “Imaji Ornamen”

WAKTU                : 19 Mei – 29 Mei 2011

PERESMIAN       : Kamis, 19 Mei 2011

pukul                      : 19.00  WIB – selesai

Pameran akan diresmikan oleh :

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI

Bpk. Ir. Jero Wacik, MBA

TEMPAT               : Galeri Nasional Indonesia, Jakarta

KARYA                 : Lukisan, Patung, Seni Cetak, Fotografi, Video Art, Object, Instalation Art

PESERTA              : Calon peserta terdiri dari para perupa yang perorangan atau kelompok dari berbagai  wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.

TIM KURATORIAL             :  Kuss Indarto (curator)

Eddy Susilo  : (exhibition coordinator)

Email             : pameran.nusantara2011@gmail.com

***

PENGANTAR KURATORIAL

Imaji Ornamen

ORNAMEN telah lama menjadi bagian yang melekat dalam sejarah seni (rupa) di Indonesia. Publik dapat memberi tengara, misalnya, pada sekujur tubuh bangunan banyak candi Hindu dan Buddha yang bertebar di beragam kawasan di Indonesia. Sebagai amsal, candi Borobudur yang dibangun mulai sekitar 824 M dan candi Prambanan (sekitar 850 M). Di dalamnya, pada arca, relief, dan tubuh candi itu sendiri banyak sekali tergurat ornamen yang mengisahkan fragmen-fragmen Ramayana dan Mahabharata. Ada detail yang njelimet yang bisa dimungkinkan menjadi salah satu representasi atas ketelitian cara kerja dan (bahkan) cara berpikir manusia Indonesia (waktu itu).

Demikian juga tatkala publik mencermati karya seni batik dari berbagai daerah. Mulai dari batik ala keraton Ngayogyakarta, Surakarta, atau batik pesisiran ala Pekalongan, Cirebon, Indramayu, Gresik, hingga Madura, Riau dan berbagai kawasan lain. Semuanya memberi porsi yang besar atas ornamen sebagai tanda visual yang dominan. Berbagai motif, baik yang dikreasi dengan didasarkan atas kelas sosial tertentu (seperti batik motif parangrusak, udan liris, kawung atau sidomukti di keraton Ngayogyakarta), hingga batik yang diciptakan dengan cara pandang egaliter di luar keraton, telah menempatkan aspek ornamen sebagai hal yang penting, melekat dan dominan di dalamnya.

Belum lagi dengan motif-motif pada bagian tertentu dalam bangunan atau arsitektur ala Melayu, Minangkabau, Banjar, Dayak, Batak, Bugis, Lombok, dan sekian banyak kelompok suku dan etnis lainnya. Di sana, ornamen tidak sekadar menjadi tempelan sekadarnya, namun telah bersalin makna sebagai identitas kultural yang dihasratkan sebagai simbol kebanggaan masing-masing suku atau etnis. Demikian pula kalau publik menilik seni tattoo yang telah (pernah?) ada pada sebagian masyarakat di Indonesia, terutama di Mentawai dan Dayak. “Seni lukis” tubuh itu mengenal dengan sadar pola-pola tertentu yang mendepankan aspek ornamen(tik) untuk memberi tekanan artistik dan semiotik dalam mengguratkan seni tattoo tersebut. Sikerei di Mentawai memiliki pemahaman yang cukup untuk memberi ornamen atas tubuh-tubuh orang tertentu saat hendak menattoo, berdasarkan profesi atau kelas-kelas tertentu yang ada dalam masyarakat.

***

ORNAMEN sendiri, seperti banyak disitir dari para etimolog, berasal dari kata ornare (bahasa Latin) yang berarti “menghiasi”. Ornamen, dalam Ensiklopedia Indonesia, dijelaskan sebagai gugusan hiasan bergaya geometrik atau yang semacamnya. Ornamen, lazimnya dikreasi pada sebuah bentuk dasar dari hasil kerajinan tangan (bisa perabot, pakaian, dan sebagainya) dan arsitektur. Ornamen menjadi komponen dalam produk dan kreasi seni yang ditambahkan atau didisain secara sengaja dengan tujuan sebagai hiasan.

Pembahasan perihal ornamen tidak terlepas dari pola dan motif karena itu merupakan bagian yang melekat dari ornamen. Pola dalam bahasa Inggris disebut “pattern”. H.W. Fowler dan F.G Fowler menyebut bahwa pola adalah “decorative” design as executed on carpet, wall paper, cloths etc”. Sedangkan Herbert Read menjelaskan pola sebagai penyebaran garis dan warna dalam suatu bentuk ulangan tertentu. Mungkin masih sulit gambaran kita tentang pola apabila belum mengerti motif. Dalam Ensiklopedia Indonesia, dijelaskan bahwa motiflah yang menjadi pangkal tema dari suatu buah kesenian. Pendapat di atas bisa digambarkan bahwa bila ada garis lengkung, msalnya, maka garis tersebut disebut sebagai motif, yaitu motif garis lengkung. Kalau garis lengkung tadi diulang secara simetris, maka akan diperoleh gambar lain yaitu gambar kedua. Inilah sebuah pola yang didapat dengan menggunakan motif garis lengkung tadi. Selanjutnya bila gambar kedua tadi motif dan diulang-ulang menjadi gambar ketiga, maka gambar tersebut dapat disebut sebagai pola atas motif yang kedua tadi. Demikian seterusnya.

Di samping tugasnya sebagai penghias secara implisit menyangkut segi-segi keindahaan, misalnya untuk menambah keindahan suatu barang sehingga lebih bagus dan menarik. Disadari pula bahwa dalam ornamen sering ditemukan pula nilai-nilai simbolik atau maksud-maksud tertentu yang ada hubungannya dengan pandangan hidup (falsafah hidup) dari manusia atau masyarakat pembuatnya, sehingga benda-benda yang dijadikan medium atas ornamen itu memiliki arti dan makna yang mendalam, dengan disertai harapan-harapan yang tertentu pula.

Memang, tak jarang ornamen itu berkait dengan masalah-masalah lain yang lebih kompleks dan luas. Kaitan hubungan tersebut bisa diuraikan perihal motif, atau tema maupun pola-pola yang dikenakan pada benda-benda seni, bangunan, dan pada permukaan apa saja tanpa memandang kepentingannya bagi struktur dan fungsinya. Selanjutnya apabila diteliti lebih mendalam dari pembahasan di atas, cakupan ornamen menjadi teramat luas. Oleh sebab itu pengertian ornamen akan bergantung dari sudut pandang kita melihatnya, dan setiap orang bebas menarik kesimpulan menurut sudut pandangnya.

***

LALU, apa yang bisa diperbincangkan dan dipertajam dari kuratorial tentang “Imaji Ornamen”? Inilah titik penting yang diajukan dalam perhelatan ini.

Ornamen sebagai bagian dalam “bawah sadar” dan “tradisi” yang dikenal, diketahui atau bahkan melekat dalam diri dan proses kreatif seniman di Indonesia, kali ini dihasratkan untuk dijumput dan digali kembali, dan kemudian diaktualisasikan dan dikembangkan dalam konteks kebaruan cara pandang seniman terhadap perkembangan jaman. Ini memang sebuah hasrat yang “klasik” namun memang perlu kreativitas lebih lanjut dari para perupa untuk lebih mendinamisasikan lagi.

Publik bisa berkaca dari beragam contoh karya seni rupa kontemporer yang telah beredar di sekitar kita. Sebut misalnya karya “Wayang Batak” karya Heri Dono yang mengolah aspek dasar wayang dengan pembaruan segi ornamentasinya yang naïf dan kartunal khas Heri Dono. Demikian pula dengan karya lukis dari perupa Nasirun yang memendam memori personalnya atas dunia pewayangan yang menjadi akar (dasar) tradisinya. Wayang digali dan digubahnya kembali dengan spirit “kontemporer” sesuai kapasitas estetik dan artistiknya. Dan publik tentu tahu persis bahwa dunia rupa wayang sangat identik dengan dunia ornamen yang rumit penuh ketekunan. Demikian pula dengan seniman Indonesia yang kini bermukin di Australia, Dadang Christanto. Pada satu waktu, sekitar dua tahun lalu, karya-karyanya yang dipamerkan secara tunggal di Jepang banyak menggali aspek visual dari batik pesisiran Cirebonan dengan motif mega mendung. Pun dengan pasangan Santi dan Otom yang melabelkan diri dengan nama Indieguerillas. Karya-karya mereka yang paling mutakhir sedikit banyak beranjak dari kemampuan mereka untuk mengeksplorasi dan menggubah kembali narasi-narasi visual lokal untuk diangkat dalam “narasi baru” yang dekat dengan konteks perbincangan masa sekarang (versi Indieguerillas, tentu saja). Sekali waktu, tokoh-tokoh Punakawan yang bernilai lokal itu dijadikan sebagai salah satu subyek utama karya meraka dan dihadirkan dalam kerangka pandang “new pop art” yang kontekstual untuk masa sekarang.

Dengan demikian, sesungguhnya, perhelatan Pameran Nusantara 2011 ini memberi peluang seluas-luasnya bagi para perupa yang bergerak dalam banyak ragam medan dan medium seni rupa untuk terlibat memikirkan kembali (re-thinkhing), membaca kembali (re-reading), dan menemukan kembali (re-inventing) nilai-nilai dalam ornamen yang telah banyak bergerak di sekitar sebagai nilai lokal untuk dikembangkan lebih lanjut dengan bentuk ungkap dan sistem pemahaman yang (sebisa mungkin) lebih baru dan dalam.

***

A. CATATAN BAGI PESERTA PAMERAN

  • Calon peserta terdiri dari para perupa perorangan atau kelompok dari berbagai  wilayah di Indonesia, berdasarkan proses seleksi tim kurator dan juga berdasarkan undangan khusus dari pihak Galeri Nasional Indonesia.
  • Setiap calon peserta WAJIB MENDAFTARKAN DAN MENGISI FORMULIR yang disediakan panitia PALING LAMBAT tanggal 21 April 2011, melalui email pameran.nusantara2011@gmail.com

Alamat pengembalian Formulir Pendaftaran/ Kesediaan calon peserta adalah:

Panitia Pameran

Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Pameran”

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 (depan Stasiun KA. Gambir)

Jakarta Pusat

TEL/ FAX          : 021- 34833954

Email   : pameran.nusantara2011@gmail.com

u.p. Bpk. Tunggul (HP : 085780825275 )

  • Setiap peserta WAJIB menyertakan keterangan CV/Biodata dan konsep karya dalam BAHASA INDONESIA sebagai DATA FILE (Word Document). Biodata terdiri dari : Data diri, alamat lengkap, prestasi, dan photo diri serta image karya yang akan dipamerkan.

B. CATATAN TENTANG KARYA

  • Pengerjaan dan penyiapan karya adalah tanggung jawab peserta
  • Karya yang diajukan untuk dipamerkan merupakan karya yang dibuat dalam rentang waktu dari tahun 2010 hingga 2011 serta milik masing-masing peserta.
  • Karya yang dipamerkan merupakan hasil tanggapan terhadap tema “Imaji Ornamen”
  • Karya peserta berupa: Lukisan, Patung, Seni Cetak, Fotografi, Video Art, Object, Instalation Art
  • Media dan teknik pembuatan karya tidak mengikat/ BEBAS.
  • Setiap peserta kengirimkan dua buah karya dalam bentuk image/foto ukuran 10 R (dikirim via pos) atau dalam bentuk soft data image resolusi minimal 500 kb dan maksimal 1 mb (dikirim via email) untuk bahan seleksi tim kurator.
  • Ukuran karya:

Karya 2 dimensi (minimal 1×1 m dan maksimal lebar 3x4m)

Karya 3 dimensi (minimal 50 cm3 dan maksimal 3 m3)

Karya instalasi (maksimal 3 m3)

Dengan diperbolehkan pilihan secara vertikal ataupun horisontal.

  • Pilihan Ukuran, materi dan bentuk karya yang bersifat khusus harus dibicarakan dengan pihak kurator.
  • Karya yang telah terpilih dapat disempurnakan kembali dan di foto ulang dan dikirimkan ke panitia pameran paling lambat 21 April 2011. Foto tersebut di gunakan untuk keperluan pembuatan katalog pameran.

C. PENGEPAKAN DAN PENGIRIMAN KARYA

  • Pengepakkan dan pengiriman karya ke Galeri Nasional Indonesia (Jakarta) adalah tanggung jawab peserta pameran.
  • Masing-masing perserta disarankan menyiapkan kemasan bungkus atau kotak karya yang memadai  sehingga tidak akan mengakibatkan kerusakan karya saat proses pengiriman karya
  • Peserta wajib mengirimkan karyanya dalam kondisi finish siap pajang/display.
  • Bagi karya peserta yang menggunakan pigura, maka peserta WAJIB mengirimkan karyanya dalam kondisi SUDAH DIPIGURA (frame)/ finish.
  • Karya paling lambat diterima di Galeri Nasional Indonesia tanggal 6 Mei 2011
  • Alamat pengiriman karya:

Panitia Pameran

Seni Rupa “NUSANTARA 2011”

u.p. Bpk Tunggul (HP : 085780825275 )

Galeri Nasional Indonesia

Jl. Medan Merdeka Timur no.14 (depan Stasiun KA. Gambir)

Jakarta Pusat

TEL/FAX : 021 – 34833954

  • Pengepakkan kembali dan pengiriman ulang karya kepada perupa/peserta adalah tanggung jawab pihak Galeri Nasional Indonesia.


D. DISPLAY KARYA

  • Display karya adalah hak dan tanggung jawab kurator pameran dan Galeri Nasional Indonesia.
  • Pemasangan atau display karya yang bersifat khusus akan didiskusikan oleh kurator dengan pihak perupa/peserta yang bersangkutan.
  • Pengadaan alat yang digunakan untuk presentasi karya adalah tanggung jawab masing-masing peserta yang menggunakannya.

E. PUBLIKASI

  • Galeri Nasional Indonesia akan memproduksi katalog pameran.
  • Publikasi kegiatan akan dilakukan melalui berbagai saluran promosi dan interaksi elektronik.
  • Undangan dan poster pameran akan diproduksi Galeri Nasional Indonesia.
  • Galeri Nasional Indonesia akan menyelenggarakan kegiatan press confeerence dan menyebarkan press release menjelang pelaksanaan kegiatan.

F. RANGKAIAN KEGIATAN

  • Kegiatan pameran akan dilengkapi oleh rangkaian kegiatan :

1.      Diskusi/Sarasehan mengenai Seni Rupa Nusantara (20 Mei 2011) pukul 10.00 WIB hingga selesai.

G. CATATAN KHUSUS

  • Karya yang dipamerkan pada Pameran nusantara 2011 ini direncanakan dipamerkan keliling ke kota lain. Penentuan materi pameran diseleksi oleh tim kurator Galeri Nasional Indonesia

CATATAN : TENGGAT WAKTU PENTING (TIME FRAME)

1.      Pendaftaran Kesertaan Peserta Pameran,Pengumpulan Biodata Seniman dan Pengumpulan Image/photo karya                                                                                        7 Maret – 21 April 2011

2.      Proses seleksi tim kurator                                                            25 April 2011

3.      Pengumuman Karya/Peserta terpilih                                           26 April 2011

4.      Pengiriman Karya ke GNI                                                             1 – 6 Mei 2011

5.      Display Karya                                                                                16 – 19 Mei 2011

6.      Pembukaan Pameran                                                                   19 Mei 2011

7.      Pameran Seni Rupa Nusantara 2011 “Imaji Ornamen”              19 – 29 Mei 2011

8.      Pembongkaran Display Karya                                                       30 Juni – 3 Juli 2011

9.      Pengembalian Karya pada Peserta                                              3 – 30 Juli 2011

*Berita di dapat dari sahabatgallery.wordpress.com . Informasi lengkap Galeri Nasional.