Darbotz kembali lagi! Setelah tahun 2010 yang lalu Darbotz memulai karirnya sebagai seniman di galeri komersial, kita bisa melihat dengan cukup jelas perubahan, kematangan dan eksplorasi yang ia hadirkan dalam karya diatas kanvas. Ada yang masih ingat pameran pertamanya di D’gallerie yang berjudul ‘Monster Goes Out at Night’? dimana saat itu Darbotz terasa masih seperti dalam tahap pengenalan di dunia seni rupa Indonesia, terasa rapih dan terstuktur. Kalau lupa, silahkan kunjungi review saya tentang pameran tersebut disini.

Di pameran tunggalnya yang diadakan Viviyip Artroom ini, Darbotz mengangkat judul ‘The Boy Who Became A Monster’, dan memang terlihat jelas, kini Darbotz terlihat lebih liar dalam mengeksplorasi karakter monochrome diatas kanvasnya, ia tidak takut menghadirkan sosok lain dalam karyanya, seperti pada lukisannya yang berjudul ‘Monster Inside Us #1 #2’,  Darbotz menggambarkan suatu makhluk yang terlihat seperti wajah manusia, di tengahnya terlihat sosok cumi yang menjadi karakter identitasnya seperti sedang mengintip ke arah luar, penggunaan patern baru yang hadir dalam karya tersebut semakin memperkarya lukisannya.

'Monster Inside Us #2' | Mixed Media | 120x120cm | 2011

Seperti yang sudah kita ketahui, Darbotz sudah sangat lama dikenal sebagai seorang Street Artist, ia berkeliling kota Jakarta bersama sesama teman Street Artnya untuk menorehkan hasrat berkaya mereka masing-masing, goresan tinta hitam berpola serta karakter cuminya bisa kita lihat di beberapa dinding dan kolong jembatan di kota Jakarta. Untuk yang belum tahu, karakter cumi yang ia ciptakan merupakan bentuk perasaannya terhadap kota Jakarta, kemacetan, polusi dan berbagai macam keadaan yg tdk mempunyai aturan yg ada di Jakartalah yang akhirnya mengilhami terciptanya karakter tersebut.

'Body Mind Trick #2' | Mixed Media | 120x120cm | 2011

'Fuck The Rest' | Fiberglass | 90cm | 2011

Ada beberapa karya yang menarik perhatian saya di pameran ‘The Boy Who Became A Monster’ ini, salah satunya adalah ‘Body Mind Trick #2’, di karya ini kombinasi antara karakter cumi dengan background yang ia hasilkan terlihat sangat menarik, lelehan cat hitam pada karya tersebut semakin meningkatkan suasana yang dibangun.

Lainnya adalah ‘Polluted #1 #2 #3’ yang perpaduan warnanya sangat kontras, penggunaan kanvas berbentuk bulan semakin memainkan mata kita, terlihat ‘sedap’ dipandang. Yang menarik lainnya adalah 2 karya berjudul ‘Real Deal’ dan ‘Stay Gold’, dalam 2 karya ini Darbotz menggunakan Thread Plate yang biasa kita lihat dan digunakan sebagai lantai di termial Busway, di karya ini ia seperti ingin mengingatkan para pengunjung pameran akan identitas dirinya yang merupakan seorang Street Artist, seorang seniman jalanan yang berkarya di temani asap polusi dan bisingnya Kota Jakarta.

Pameran ‘The Boy Who Became A Monster’ ini harus masuk ke dalam daftar kunjungan pameran yg harus kalian lihat, secara keseluruhan pameran ini memberikan suguhan yang menarik untuk dinikmati, semakin menarik bila kita mengikuti perkembangan Darbotz sebagai seorang Street Artist yang sudah lama berkarya di jalanan dan kini ia mulai masuk ke galeri komersil.

Tahun lalu pameran tunggal Darbotz di D’gallerie memancing kegiatan seni rupa kontemporer di Indonesia menjadi semakin hidup dan ramai, bagaimana dengan saat ini? kita lihat saja🙂

'Polluted #1 #2 #3' | Acrylic On Canvas | 100cm | 2011

'Staygold' | Spraypaint on Thread Plate | 200x100cm | 2011

Exhibition Name : The Boy Who Became A Monster
Place : Viviyip Artroom
Time : Desember 2011
Artist : Darbotz